Rabu, 24 Oktober 2018

EVOLUSI TEORI KOMUNIKASI


EVOLUSI TEORI KOMUNIKASI

Evolusi Pemikiran
       Para pakar dan praktisi telah berpikir tentang sifat komunikasi selama lebih ari 2.500 tahun. Istilah yang mereka gunakan, dan contoh-contoh yang mereka pakai, beraneka warna sesuai dengan waktu, namun tujuan pokoknya – mendapatkan pemahaman tentang peranan komunikasi dalam urusan kemanusiaan—tetap tidak berubah.
     Bentuk model komunikasi dapat bermacam-macam, tetapi terlepas dari karakteristik khusus sebuah model, semuanya memiliki satu tujuan umum, yaitu untuk membuat miniatur, menyederhanakan, menampilkan hakhak pokok, dan menekankan ciri-ciri dasar objek, proses atau fenonemena yang akan ditampilkan.
   Secara bertahap pemikiran mengenai komunikasi bertambah luas, dengan fokus pada  berbicara antarpribadi dan berbicara didepam umum; komunikasi Nonverbal, komunikasi dengan mediasi teknologi dan komonikasi, dan komunikasi verbal; banyak pembicara denagan banyak pendengaran dan sumber perorangan dengan banyak penerima. Dan hasil komunikasi; yang mencakup hal-hal seperti ini: hiburan, sosialisasii orang tua anak, mengembangkan hubungan, membangun budaya serta banyak lagi lainnya yang terkait dengan presuasi.

Asal Usul Teori Komunikasi: Yunani Kuno
   Aristoteles (385-347) dan gurunya Plato (427-347 SM) adalh tokoh yang paling sentral dalam permulaan studi komunikasi. Keduanya mengganggap komunikasi sebagai seni atau keahlian untuk diprkatikan sekaligus sebagai bidang studi.
Aristoteles melihat komunikasi sebagai sarana melaui mana warga negara berpartisispasi dalam demokrasi. Bagi, Aristoteles komunikasi adalah kegiatan verbal melalui mana pembicara berusahs membujuk – untuk mencapai tujuan yang didimilkinya dengan seorang pendengar melaui penyusunan argumen secara mahir dan melalui penyamapaian pidato.
Plato dalam tulisan-tulisannya, menguraikan secara garis besar apa yang menurutnya diperlukan untuk studi retorika dan berkontribusi terhadap penjelasan yang lebih luas mengenai perilaku manusia. Ia berkeyakinana bahwa bidang ini harusnya mencakup studi mengenai sifat dari kata-kata, studi tentang sifat manusia dan cara mereka menjalani kehidupan, studi tentang sifat manusia dan cara mereka menjalani kehidupan, studi tentang sifat dan aturan, dan studi tentang alat-alat dengan man manusia terpengaruh.


Abad ke- 20
Sebagai bidang sekaligus sebagai satu displin tersendiri komunikasi yang muncul di tahun 1940-an, 1950, dan 1960-an, dengan pengaruh dari ide-ide yang diekmukakan oleh para ilmuwan Yunani Kuno dan diperdalam dalam tulisan-tulisan pada masa berikutnya, masih memiliki bukti yang masih banyak.

Model Komunikasi Lasswell
Dia mengatakan bahwa proses komunikasi dpat dijelaskan dengan sangat baik oleh pernyataan sederhana :
“siapa mengatakan apa kepada siapa dengan saluran apa dan dengan dampak apa”
Lasswel melihat komunikasi sebagai proses satu arah dimana sseorang individu memengaruhi orang lain melalui pesan. Model Laswell mengingatkan bahwa mungkin trdapat bebagai hasil atau efek dari komunikasi, seperti menginformasikan, menghibur, memperburuk, serta membujuk.
Model Shannon dan Waeaver
Shannon dan Weaver menggambarkan proses komunikasi dengan cara ini :
“komunikasi mencakkup semua prosedur dengan mana satu pikiran dapat  memengaruhi yang lain. Ini, tentu saja, tidak hanya mencakup tulisan dan pidato lisan, tetapi juga musik , seni, gambar, teater, balet, dan sebenarnya meliputi semua perilaku manusia.”
Shannon dan Weaver membuat beberapa perbedaan yang tidak ada dalam model yang lain. Secara lebih khusus, mereka membedakan antara sinyal dan pesan; sumber informasi dan pemancar; dan penerima dan tujuan.
Model Scharmm
Scharm melihat komunikasi sebagai upaya sengaja untuk membentuk kesamaan antara sumber dan penerima, dengan catatan bahwa kata komunikasi berasal dari bahasa latin communis, yang berarti common atau bersama. Dia berpendapat bahwa tanpa kesamaan medan pengalaman-kesamaan bahasa, kesamaan latar belakang, kesamaan budaya, dan sebagainya hanya sedikit kesempatan bagi pesan untuk dipahami.
Scharmm menegaskan pentingnya umpan balik (feed back) sebagai cara untuk mengatasi masalah gangguan (noise). Dia mengatakan bahwa umapan balik “memberi tahu kita bagaiman pesan kita sedang diinterpretasikan ... seorang komunikator yang berpengalaman akan sangat memprihatinkan umpan- balik dan terus-menerus memodifikasi pesannya berdasarkan apa yang dia [ laki-kaki atau perempuan ] amati atau dengarkan dari khalayaknya”.

Model Katz dan Lazersfeld   
    Pada 1955, ilmuwan politik Elihu Katz dan Paul Lazersfeld menyajikan konsep dua – langakah arus (two-step flow) komunikasi dalam buku mereka, “Pengaruh Pribadi” (personal influence). Model ini berdasarkan penelitian sebelumnya dimana mereka menemukan bahwa informasi yang disajikan dalam media massa tidak mencapai dan tidak memiliki dampak individu secara langsung sebagaimana pandangan sebelumnya yang mengganggapnya demikian.
    Mereka mengembangkan pandangan yang menghubungkan dinamika interpersonal dengan komunikasi massa. Mereka menemukan bahwa pemilih yang ragu-ragu lebih dipengaruhi oleh orang-orang disekitar mereka dibandingkan oleh informasi yang diberikan oleh media massa; penelitian juga menunjukan bahwa bebrapa orang secara konsisten lebih berpengaruh daripada yang lain, sehingga mereka menyimpulkan bahwa “ide sering tampak mengalir dari radio dan media cetak kepada pemimpin pendapat dan dari mereka kepada warga yang kurang aktif”. Inilah yang disebut dengan dua langkah arus informasi.
Model Westley dan MacLean
     Model Westley dan MacLean menunjukan bahwa proses komunikasi yang sesungguhnya dimulai dengan serangkaian sinyal (signal) atau potensi pesan. Sinyal atau potensi pesan tersebut bisa pula merupakan kombinasi dari beberapa unsur, misalnya suara, penglihatan, dan sentuhan.
Unsur –unsur tambahan, garis dan panah yang terdapat dalam model ini terjadi karena empat cara penting berikut ini .
Ø  Memerhatikan hubungan antara komunikasi Interpresonal dan Komunikasi yang melibatkan media massa
Ø  Menunjukan bahwa komunikasi dimulai dengan seorang individu menerima pesan daripada mengirimkan pesan
Ø  Menjelaskan banyaknya sinyal yang penting untuk proses komunikasi yang secara tidak sengaja dikirimkan
Ø  Menekankan bahwa suatu pesan mengalami perubahan serentak dengan pindahnya pesan itu dari satu orang ke orang lain.
Model Dance  
Pada 1967 Frank Dance mengembangkan model komunikasi yang disebut dengan model sprilal berputar (helical-spiral). Dipilihnya bentuk visual seperti ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa komunikasi adalah proses yang kompleks dan evolusioner. Sebagaimana Dance menulis :
“jika komunikasi dipandang sebagai suatu proses, kita dipaksa untuk menyesuaikan pemeriksaan kita dan instrumen pengujian kita atas suatu tantangan yang ada dalam gerakan, sesuatu yang berubah sedangkan kita berada didalamnya untuk memeriksanya”.
Putaran (helix) adalah satu cara yang menggabungkan antara model-model linier dan model-model lingkaran sekaligus membuang kelemahan masing-masing model. Untuk umpan balik model lingakaran , Dance menambahkan kedalamnya dimensi waktu guna menunjukan bahwa setiap tindakan komunikasi itu dibangun diatas pengalaman komunikasi sebelumnya dari para pihak yang terlibat.
Model Watzlawick, Beavin, dan Jackson
Model Watzlawick-Beavin-Jackson, melukiskan komunikasi sebagai proses memberikan dan menerima pesan diantara para pesertanya. Model ini menekankan pandangan bahwa komunikasi bukanlah suatu yang terjadi hanya ketika sumber dengan sengaja memilih pesan untuk mengirimkannya. Sebaliknya mereka menyatakan bahwasannya kita selalu beranggapan “orang tidak dapat tidak berkomunikasi”
Model Thayer
 Pada 1968, buku Lee Thayer, Komunikasi dan Sistem Komunikasi (Communication and Communication System), memberikan pandangan lintasdisiplin mengenai komunikasi. Thayer menekanan komunikasi sebagai proses yang dianamis dimana individu menciptakan dan menginterpresaikan informasi—yang dilihatnya sebagai suatu yang kompleks, dinamis, dan sangat pribadi. Untuk meningkatkan cara berpikir ini, Thayer mengusulkan konsep “masuk kedalam hitungan yang mampu” dan “masuk kedalam hitungan yang lemah”, menurutnya kemampuan dan kerentanan kita mengarahkan cara kita memperoleh, memeroses, menghasilkan, dan menyebarkan informasi.
Metode ini menggabarkan komunikasi sebagai proses yang dinamis, dan menekankan beberapa ide kinci lainnya:
Ø  Pesan yang diperoleh penerima tidak pernah identik dengan yang dikirim seorang sumber
Ø  Penerima mendapatkan sejumlah pesan dengan kemampuan memproses atau memahaminyadalam cara yang berbeda-beda.
Ø  Orang bisa bertindak sebagai pengirim sekaligus penerima pesan, dan pergantian dari satu ke yang lainnya tidak selalu jelas.
Ø  Informasi yang diterima dapat berfungsi sebagai umpan balik.

Teori Komunikasi di Abad ke -21
Secara umum tema dan konsep yang sanagt penting dalam membangun teori komunikasi selam dekade pertengahan abad ke-20 berasal dari tahun 1980 dan 1990-an dengan sejumlah perubahan dalam terminologi dan penekanan.
Teori komunikasi yang memusatkan perhatian pada media (atau teknologi) cenderung untuk meminimalkan perbedaan antara komunikasi massa dan bentuk komunikasi lainnya yang didalamnya teknologi dilibatkan.
Hal lain yang penting selama akhir 1980-an dan 1990-an adalah pengaruh kajian budaya dalam penegmbangan teori komunikasi. Pendekatan ini menekankan peran penting politik, kelas sosial, atau pengaruh budaya dalam membingkai konteks dimana peristiwa komunikasi tertentu terjadi.
Dalam dekade pertama abad ke-21, model-model komunikasi yang populer mengungguli model-model yang berkembang pada dekade-dekade sebelumnya. Pada sebagian besar buku teks pengantar komunikasi secara luas digunakan, misalnya komunikasi digambarkan sebagai proses interaksi, atau transaksi, antara individu yang melibatkan pesan, media, dan umpan balik.

Refleksi Evolusi Teori Komunikasi
Paradigma dan Anomali
     Hal yang paling mendasar dari tema-tema yang tradisional itu adalah pandangan bahwa komunikasi terdiri dari sumber yang menyusun dan mengirimkan pesan ke satuatau lebih penerima dlam rangka untuk menghasilkan efek tertentu. Dalam cara berpikir ini, komunikasi adalah peristiwa satu arah dalam bentuk pengiriman pesan dari sumber ke (sejumlah) penerima. Karakterisasi S-M-R = E ini telah begitu meresap kedalam pemikiran ilmu ini sehingga mencerminkan apa yang disebut dengan filsuf Thomas Khun dan pemikir lainnya sebagai paradigma. Paradigma adalah orientasi teoritis yang luas yang mengarahkan para ilmuwannya dalam suatu bidang ilmu bekerja secara substansi selam periode waktu tertentu.
     Hasil penelitian, pengamatan, atau peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh, atau tidak selaras dengan paradigma yang ada disebut anomali. Seringkali kemudaian anomali menjadi pendorong unrtuk membuang satu paradigma dan menjadi paradigma baru.
Model dan tulisa-tulisan Shannon dan Weaver, dan terutama lagi Scarhmm, menunjukan bukti adanya anomali MS#MR dan permulaan dari perubahan model komunikasi. Konsep kebisngan (noise) dari Shannon dan Weaver merepresentasikan pengakuan formal pertama dalam model komunikasi dasar bahwa pesan yang dikirim oleh seorang sumber dan pesan yang diterima oleh penerima serinng tidak bersesuaian.


Teori Komunikasi Dewasa Ini 
Tinjauan kami atas model-model komunikasi menunjukan bahwa paradigma S—M—R = E mendominasi sepanjang sejarah ilmu komunikasi, empat puluh tahun terakhir telah membawa sejumlah perubahan perspektif bidang ini. Evolusi konsep tersebut terdiri dari :
  Ø  Dari sumber – dan berpusat pada pesan ke penerima dan berpusat pad makna 
  Ø  Dari satu – cara ke interaktif dan transaksional
  Ø  Dari peristiwa ke berorientasi pada proses
  Ø  Dari penekanan yang khusus pada pengiriman informasi ke penekanan pada interpretasi dan hubungan, serta pengiriman informasi  
  Ø  Dari berbicara didepan umum ke kerangka kerja yang mempertimbangkan komunikasi dalam berbagai konteks termasuk individu, hubungan, keluarga, kelompok, organisasi, masyarakat, dan media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar